Showing posts with label flores. Show all posts
Showing posts with label flores. Show all posts

Saturday, 8 March 2014

Mari Ciptakan Generasi Indonesia Membaca

12:33 am




Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar, begitu kata banyak orang. Namun pameo tersebut jika dilihat di teropong era moderen harus dikaji ulang. Dilihat dari segi geografis memang benar adanya Indonesia bangsa yang besar dan kaya. Namun dari segi pendidikan, Indonesia kalah telak dengan negara-negara lain. Terutama dari segi budaya membaca. 

Berdasarkan survey yang diadakan oleh badan pembangunan PBB (UNDP), Indonesia ada di urutan 109 dari 174 negara berdasarkan kualitas SDM yang dimiliki negara. Sangat tertinggal jauh dari negara tetangga, yaitu Singapura (24), Malaysia (61), dan Thailand (76). Inilah sebab banyak SDA Indonesia dikelola oleh pihak asing.

Puluhan tahun silam banyak negara yang berguru di Indonesia, terutama negara-negara tetangga. Mereka mengirim mahasiswanya dan dibiayai oleh pemerintah masing-masing. Namun kini keadaan berbanding terbalik, ribuan mahasiswa Indonesia berbondong-bondong ke negara lain untuk menimba ilmu. Lalu apa penyebab Indonesia mengalami kemunduran dalam hal pendidikan? Hilangnya budaya membaca dari bangsalah yang menjadi penyebab utama.

Membaca merupakan kegiatan penting dalam kehidupan, mengingat semua aspek di dalam kehidupan dewasa ini selalu melibatkan kegiatan membaca di dalamnya. Untuk menumbuhkan kembali minat membaca, harus dimulai dari lingkungan seseorang sejak dini. Lalu bagaimana dengan golongan dewasa? Tidak mudah menumbuhkan bibit pada tanah yang terlanjur tandus, begitu pula dengan menumbuhkan minat membaca golongan tersebut. Maka dari itu, sebagai generasi muda, kita wajib menanamkan budaya membaca pada anak-anak.

Dewasa ini, kita sadar bahwa tingkat minat membaca masyarakat yang masih rendah dapat memicu keterpurukan bagi bangsa di masa mendatang. Saat ini yang bisa dan harus kita lakukan adalah dengan mendorong anak usia dini untuk mencintai kegiatan membaca. Untuk menarik minat anak terhadap kegiatan membaca, lingkungan harus menyediakan fasilitas tersebut. Fasilitas utamanya adalah buku bacaan.

Ada bebagai macam kendala yang harus kita perangi untuk menciptakan gerakan Indonesia membaca, antara lain:
1.       Kurang tersedianya bacaan yang menarik hasrat masyarakat
2.       Minimnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan formal maupun non formal
3.       Kebiasaan malas membaca yang telah mengakar di masyarakat
4.        Daya beli buku masih minim karena tingkat perekonomian yang kurang merata di kalangan masyarakat Indonesia
5.       Kurang tersebarnya sarana membaca (perpustakaan dan baca) terutama di pelosok Indonesia
6.       Sistem pendidikan yang kurang memberdayakan perpustakaan
Maka dari itu, sudah selayaknya kita memberikan uluran tangan bagi anak-anak Indonesia, terutama yang berada di pelosok negeri. Indonesia harus bangkit dari keterpurukan dan menyongsong masa depan yang lebih cerah. 

Meski demikian, sudah ada berbagai gerakan dari pemuda dalam hal meningkatkan pendidikan, terutama minat baca anak-anak di pelosok negeri. Gerakan yang dilakukan secara gerilya ala pemuda, seperti @bukuntukpapua, kapal pendidikan WWF Gurano Bintang di Teluk Cendrawasih, Taman Bacaan Pelangi, dll. 

Maka dari itu, saya dan beberapa orang teman tergerak untuk ikut serta dalam membantu memeberikan bacaan yang dapat menarik minat anak-anak terutama di beberapa desa terpencil di Flores, seperti Waerebo, Denge dan Kombo. Desa yang cukup terkenal di kalangan asing, namun terasing dari negerinya sendiri. Bayangkan, untuk bersekolah mereka harus menempuh perjalanan 4 jam menuruni hutan rimba! Itupun di sekolah mereka, fasilitas membaca belum mencukupi kebutuhan. Sudah saatnya kita berdiri dan tidak menggantungkan diri kepada pemerintah. Ayo bantu anak-anak Waerebo membuka diri pada dunia, dengan cara mendonasikan buku-buku bacaan untuk usia dini hingga tingkat menengah. Buku yang dibutuhkan adalah buku-buku yang dapat menggugah minat seorang anak untuk mencintai kegiatan membaca, buku yang informatif, bergambar dengan warna cerah.

Untuk donasi buku, kamu bisa hubungi kami di akun twitter @nusabaca2014 atau hubungi Asta (081228590655) dan Ledy (08562803028). Kami juga menyediakan dropbox di @kedai_ilalang dan @earhouse loh :D Berbagi tidak menjadikan kita jatuh miskin, melainkan kita akan semakin kaya dengan kebahagiaan. Salam membaca!

Friday, 7 March 2014

Mengintip Nirwana di Kanawa

9:29 pm


Kata orang yang sudah keliling Indonesia, pulau yang paling mereka rindukan dan paling ingin mereka datangi lagi adalah Flores. Saya belum genap mengelilingi Flores, (apalagi Indonesia) sudah rindu menyambangi pulau itu.

Pulau Kanawa yang berjarak 15 Km dari Labuan Bajo ini mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Terdengar asing, bukan berarti tidak dikenal, sebab buku Lonely Planet mengatakan tanah ini sangat direkomendasi menjadi destinasi wisata. Coba saja tengok pasir pantainya yang putih lagi halus, bukit menghampar nan hijau di belakang atau lautnya yang biru menggoda. Semua paket ini dapat disaksikan oleh mata kepala sendiri.

Sebelum berangkat, pengunjung diwajibkan untuk registrasi di Kantor Pengelola Kanawa yang terletak tidak jauh dari pelabuhan. Kapal lepas sauh dari Labuan Bajo sekitar pukul 12.00 WITA, perjalanan yang ditempuh selama 45 menit ini dibebaskan dari biaya bagi para pengunjung Kanawa. Sepanjang perjalanan, beberapa pulau berbukit muncul seolah mengucapkan selamat datang.

Kanawa sudah di depan mata, air lautnya yang sebening Kristal dengan ikan-ikan karang yang hilir mudik datang menyambut kapal penumpang. Saat berjingkat di atas dermaga kayu, Om Dus, salah satu staff di Kanawa yang ikut dalam kapal berkata, “Dulu di dermaga ini ada rumahnya, tapi tersapu badai setahun lalu.” 

Setelah registrasi penginapan, saya diberitahu bahwa saya dan teman saya adalah satu-satunya pungunjung dari Indonesia. Wow! Tanpa banyak basi-basi, setelah mendirikan tenda dan mengisi amunisi perut, kami langsung mengambil peralatan snorkeling dan menuju selatan pulau. Menurut manager Pulau Kanawa, lokasi snorkeling terbaik dimulai dari depan bungalow nomer satu sampai ke dermaga.


Di bibir pantai kami bertemu dengan padang lamun, lalu sampah di permukaan air yang sepertinya terbawa dari pulau-pulau besar di sekitar dan akhirnya hamparan koral yang luas. Ternyata koral-koral yang hancur setahun lalu ini, dilindungi oleh peraturan pulau yang melarang kegiatan memancing di  sekeliling pulau. Menurut saya, keadaan terumbu disini meski agak mengecewakan namun banyak ikannya. Saya berjumpa bump head fish yang hampir seukuran  panjang lengan pria dewasa, puffer fish, lion fish atau ikan lepu yang melenggak-lenggok pelan, si ikan badut dan teripang koro yang mempunyai nilai jual yang tinggi.
 

Tak mau ketinggalan pertunjukan langit senja, kami segera mengeringkan diri. Tepat di bibir dermaga, saya menyaksikan permainan langit senja yang begitu syahdu dan damai, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Mega dipenuhi paduan jjngga dan ungu yang mempesona, membuat semua orang menyibukkan dirinya dengan perangkat masing-masing.

Lokasi area tenda tidak terlalu jauh dari toilet umum, sehingga memudahkan kami mengambil air untuk memasak hidangan makan malam mewah ala backpacker. Kanawa yang memiliki luas sekitar 28 hektar ini terdiri dari 3 jenis penginapan, yaitu dengan toilet pribadi dan ayunan tidur (hammock) di teras, bale-bale atau gubuk kecil, dan area perkemahan. Kami memilih tinggal di tenda karena ingin tampil beda (bahasa halus dari ngirit, hehe..) 

Pulau yang terbagi dua oleh bukit ini, hanya diolah pada bagian barat saja, sedangkan bagian timur dibiarkan apa adanya. “Lingkungan dibiarkan alami sebab ada beberapa habitat burung dan kambing yang tidak ingin kami ganggu. Biarlah pengunjung melakukan trekking sendiri mencari hidden paradise masing-masing di antara karang itu,” jelas Anggi, manager pulau itu.

 

Pagi itu kami mengikuti saran Anggi, yaitu melakukan private trekking keliling pulau. Benar saja, banyak keindahan tak terlihat dari pulau ini, seperti baby shark yang sedang berburu di bibir pantai dan hutan mangrove, namun sayang di bagian ini banyak sekali sampah yang berkeliaran di pantai. Padahal setiap hari, petugas kebersihan diwajibkan mengambil sampah-sampah yang berserakan demi menjaga kenyamanan para pengunjung Kanawa.
Benar kata orang, yang namanya surga itu tersembunyi. Sebab jika terpampang, hilang sudah kesan asri dan menawannya, terutama di Indonesia.

Thursday, 6 March 2014

8 Meter Di Cunca Wulang

11:57 pm



Labuan Bajo terkenal sebagai pintu menuju surga Pulau Komodo dan pulau lain di sekitarnya. Langit biru dengan kapas yang menggumpal, suasana pelabuhan yang riuh, dan beberapa kapal layar dari berbagai negeri impian bersandar. Namun ternyata tak jauh dari sana, ada keindahan surga yang tak kalah eksotik dari Labuan Bajo, yaitu Cunca Wulang.

Saat itu kami sedang berkendara dari Ruteng menuju Labuan Bajo sudah memiliki rencana untuk mampir ke lokasi wisata yang kami tahu dari buku seorang teman asal Perancis. Menurutnya, waktu tempuh menuju Cunca Wulang hanya satu jam berkendara dari Labuan Bajo. Akhirnya setelah sibuk bertanya kesana kemari dengan warga setempat, kami menemukan signage Cunca Wulang.



Ternyata rasa senang kami tak berlangsung lama, sebab ternyata medan yang harus kami laluidengan motor matic ini sungguh di luar dugaan. Kami mengira jalanan aspal nan halus sepanjang perjalanan dari Ruteng akan setia menemani hingga tiba di lokasi, ternyata keadaan jalan begitu buruk hingga teman sayapun terjatuh dari motor akibat tergelincir di kubangan lumpur.

Saya bingung, kenapa justru jalanan yang mendekati lokasi-lokasi wisata andalan di Flores malah semakin rusak. Padahal pemasukan daerah tersebut berasal dari pundi-pundi pariwisata, terutama dengan data 150 wisatawan asing yang mengunjungi lokasi tersebut. Sesampainya di gerbang lokasi wisata, penduduk sempat saya tanyai tentang keadaan jalan tersebut, mereka menjawab bahwa mereka sudah memberitahu pemerintah, namun belum ada tanggapan berarti dari pemerintah setempat. Andai saja tidak ada jalanan rusak, sudah tentu pariwisata mereka akan jauh lebih maju dari saat ini.



Cunca Wulang terletak di Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling. Di kawasan ini udara terasa sejuk, wajar karena letaknya berada di ketinggian 1.239 mdpl. Setelah melewati ruas jalan yang rusak sejauh satu kilometer tersebut, kita akan melewati ladang warga yang ditanami kemiri, kopi dan kakao, pemandangan yang cukup menghibur setelah bersusah payah sebelumnya.

Untuk memasuki kawasan wisata, wajib membayar retribusi pemerintah sebesar 10.000 rupiah. Namun kita meminta diskon karena akses jalan yang rusak membuat teman saya kecelakaan. Setelah merayu-rayu akhirnya kita mendapat diskon berikut dengan jasa pemandu! (Jangan ditiru)

Penuh lumpur dan memar, bukan halangan bagi teman saya untuk tidak melanjutkan perjalanan. Menuju lokasi kita masih harus trekking di hutan selama satu jam perjalanan. Uniknya, untuk mencapai lokasi air terjunnya itu kita harus melewati hujan yang cukup rapat. Pohon yang menjulang di kanan-kiri seolah menjadi payung selama perjalanan dari terik matahari. Menurut Bang Carlos, guide kami, hutan ini dihuni oleh burung Burung Gosong, burung yang setia sehidup semati dengan pasangannya.

 


Perjalanan menuju Cunca Wulang lebih banyak menurun. Setelah melewati hutan, kita akan berjalan di tepian sungai yang airnya jernih dan cukup tenang. Kerling terik matahari memantul di air, membuat semangat semakin bertambah. Batuan-batuan besar juga hadir sebagai penghias sungai ini. Dalam bahasa setempat, Cunca berarti 'air terjun', sedangkan Wulang berarti 'bulan'. Konon bentuk air terjun seperti bulan sabit.

 



 

Suara air yang menggelora menyambut kita di lembah sungai tersebut. Untuk melihat air terjun dari dekat, kita harus melewati batu satu per satu. Setiba di batu tertinggi, saya bertanya, "Bang, saya mau loncat. Bisakah?" "Oh boleh, itu disana! Dari sana sampai ke air ada 8 meter," ucap Bang Carlos dengan logat Manggarainya yang kental.
 Byuuuurr! Tanpa banyak bicara lagi, saya terjun dari ketinggian 8 meter. Adrenalin saya naik, tak ada gentar di jiwa yang haus pengalaman (gayanya selangit, rekk), nyawa serasa tertinggal di udara selama sepersekian detik sebelum tiba di air yang berwarna hijau tosca. Sungguh sebuah pengalaman yang patut untuk dicoba. Kepenatan serasa menghilang sejenak begitu bertemu dengan sejuknya air terjun.


Selain Cunca Wulang, di kawasan ini juga terdapat beberapa objek wisata, antara lain Cunca Rami dan Danau Sano Nggoang di Desa Sano Nggoang yang berjarak sekitar 1,5 jam dari Cunca Wulang, dan Puncak Mbeliling yang berada di Desa Cunca Lolos. Biasanya banyak turis asing yang mendatangi Puncak Mbeliling untuk menikmati sunrise dan birdwatching disana.

Tak salah orang yang menyebut Flores dengan sebutan Nusa Bunga, sebab kecantikannya terpancar dari setiap jengkal langkah, meski harus berjibaku dahulu sebelum melihatnya. :p Saya merasa sangat beruntung tinggal di negeri yang kaya dan merupakan kewajiban kita untuk terus menjaga warisan nenek moyang kita.