Labuan Bajo terkenal sebagai pintu menuju surga
Pulau Komodo dan pulau lain di sekitarnya. Langit biru dengan kapas yang
menggumpal, suasana pelabuhan yang riuh, dan beberapa kapal layar dari berbagai
negeri impian bersandar. Namun ternyata tak jauh dari sana, ada keindahan surga
yang tak kalah eksotik dari Labuan Bajo, yaitu Cunca Wulang.
Saat itu kami sedang berkendara dari Ruteng
menuju Labuan Bajo sudah memiliki rencana untuk mampir ke lokasi wisata yang
kami tahu dari buku seorang teman asal Perancis. Menurutnya, waktu tempuh
menuju Cunca Wulang hanya satu jam berkendara dari Labuan Bajo. Akhirnya
setelah sibuk bertanya kesana kemari dengan warga setempat, kami menemukan signage Cunca Wulang.
Ternyata rasa senang kami tak berlangsung lama,
sebab ternyata medan yang harus kami laluidengan motor matic ini sungguh di
luar dugaan. Kami mengira jalanan aspal nan halus sepanjang perjalanan dari
Ruteng akan setia menemani hingga tiba di lokasi, ternyata keadaan jalan begitu
buruk hingga teman sayapun terjatuh dari motor akibat tergelincir di kubangan
lumpur.
Saya bingung, kenapa justru jalanan yang
mendekati lokasi-lokasi wisata andalan di Flores malah semakin rusak. Padahal
pemasukan daerah tersebut berasal dari pundi-pundi pariwisata, terutama dengan
data 150 wisatawan asing yang mengunjungi lokasi tersebut. Sesampainya di
gerbang lokasi wisata, penduduk sempat saya tanyai tentang keadaan jalan
tersebut, mereka menjawab bahwa mereka sudah memberitahu pemerintah, namun belum
ada tanggapan berarti dari pemerintah setempat. Andai saja tidak ada jalanan
rusak, sudah tentu pariwisata mereka akan jauh lebih maju dari saat ini.
Cunca Wulang terletak di Desa Cunca Wulang,
Kecamatan Mbeliling. Di kawasan ini udara terasa sejuk, wajar karena letaknya
berada di ketinggian 1.239 mdpl. Setelah melewati ruas jalan yang rusak sejauh
satu kilometer tersebut, kita akan melewati ladang warga yang ditanami kemiri,
kopi dan kakao, pemandangan yang cukup menghibur setelah bersusah payah sebelumnya.
Untuk memasuki kawasan wisata, wajib membayar
retribusi pemerintah sebesar 10.000 rupiah. Namun kita meminta diskon karena
akses jalan yang rusak membuat teman saya kecelakaan. Setelah merayu-rayu
akhirnya kita mendapat diskon berikut dengan jasa pemandu! (Jangan ditiru)
Penuh lumpur dan memar, bukan halangan bagi
teman saya untuk tidak melanjutkan perjalanan. Menuju lokasi kita masih harus trekking di hutan selama satu jam
perjalanan. Uniknya, untuk mencapai lokasi air terjunnya itu kita harus melewati
hujan yang cukup rapat. Pohon yang menjulang di kanan-kiri seolah menjadi
payung selama perjalanan dari terik matahari. Menurut Bang Carlos, guide kami,
hutan ini dihuni oleh burung Burung Gosong, burung yang setia sehidup semati
dengan pasangannya.
Perjalanan menuju Cunca Wulang lebih banyak
menurun. Setelah melewati hutan, kita akan berjalan di tepian sungai yang airnya
jernih dan cukup tenang. Kerling terik matahari memantul di air, membuat
semangat semakin bertambah. Batuan-batuan besar juga hadir sebagai penghias
sungai ini. Dalam bahasa setempat, Cunca berarti 'air terjun', sedangkan Wulang
berarti 'bulan'. Konon bentuk air terjun seperti bulan sabit.
Suara air yang menggelora menyambut kita di
lembah sungai tersebut. Untuk melihat air terjun dari dekat, kita harus
melewati batu satu per satu. Setiba di batu tertinggi, saya bertanya,
"Bang, saya mau loncat. Bisakah?" "Oh boleh, itu disana! Dari
sana sampai ke air ada 8 meter," ucap Bang Carlos dengan logat
Manggarainya yang kental.
Byuuuurr! Tanpa banyak bicara lagi, saya terjun
dari ketinggian 8 meter. Adrenalin saya naik, tak ada gentar di jiwa yang haus
pengalaman (gayanya selangit, rekk), nyawa serasa tertinggal di udara selama
sepersekian detik sebelum tiba di air yang berwarna hijau tosca. Sungguh sebuah
pengalaman yang patut untuk dicoba. Kepenatan serasa menghilang sejenak begitu bertemu
dengan sejuknya air terjun.
Selain Cunca Wulang, di kawasan ini juga
terdapat beberapa objek wisata, antara lain Cunca Rami dan Danau Sano Nggoang
di Desa Sano Nggoang yang berjarak sekitar 1,5 jam dari Cunca Wulang, dan
Puncak Mbeliling yang berada di Desa Cunca Lolos. Biasanya banyak turis asing
yang mendatangi Puncak Mbeliling untuk menikmati sunrise dan birdwatching
disana.
Tak salah orang yang menyebut Flores dengan
sebutan Nusa Bunga, sebab kecantikannya terpancar dari setiap jengkal langkah,
meski harus berjibaku dahulu sebelum melihatnya. :p Saya merasa sangat
beruntung tinggal di negeri yang kaya dan merupakan kewajiban kita untuk terus
menjaga warisan nenek moyang kita.





No comments:
Post a Comment