Thursday, 6 March 2014

8 Meter Di Cunca Wulang




Labuan Bajo terkenal sebagai pintu menuju surga Pulau Komodo dan pulau lain di sekitarnya. Langit biru dengan kapas yang menggumpal, suasana pelabuhan yang riuh, dan beberapa kapal layar dari berbagai negeri impian bersandar. Namun ternyata tak jauh dari sana, ada keindahan surga yang tak kalah eksotik dari Labuan Bajo, yaitu Cunca Wulang.

Saat itu kami sedang berkendara dari Ruteng menuju Labuan Bajo sudah memiliki rencana untuk mampir ke lokasi wisata yang kami tahu dari buku seorang teman asal Perancis. Menurutnya, waktu tempuh menuju Cunca Wulang hanya satu jam berkendara dari Labuan Bajo. Akhirnya setelah sibuk bertanya kesana kemari dengan warga setempat, kami menemukan signage Cunca Wulang.



Ternyata rasa senang kami tak berlangsung lama, sebab ternyata medan yang harus kami laluidengan motor matic ini sungguh di luar dugaan. Kami mengira jalanan aspal nan halus sepanjang perjalanan dari Ruteng akan setia menemani hingga tiba di lokasi, ternyata keadaan jalan begitu buruk hingga teman sayapun terjatuh dari motor akibat tergelincir di kubangan lumpur.

Saya bingung, kenapa justru jalanan yang mendekati lokasi-lokasi wisata andalan di Flores malah semakin rusak. Padahal pemasukan daerah tersebut berasal dari pundi-pundi pariwisata, terutama dengan data 150 wisatawan asing yang mengunjungi lokasi tersebut. Sesampainya di gerbang lokasi wisata, penduduk sempat saya tanyai tentang keadaan jalan tersebut, mereka menjawab bahwa mereka sudah memberitahu pemerintah, namun belum ada tanggapan berarti dari pemerintah setempat. Andai saja tidak ada jalanan rusak, sudah tentu pariwisata mereka akan jauh lebih maju dari saat ini.



Cunca Wulang terletak di Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling. Di kawasan ini udara terasa sejuk, wajar karena letaknya berada di ketinggian 1.239 mdpl. Setelah melewati ruas jalan yang rusak sejauh satu kilometer tersebut, kita akan melewati ladang warga yang ditanami kemiri, kopi dan kakao, pemandangan yang cukup menghibur setelah bersusah payah sebelumnya.

Untuk memasuki kawasan wisata, wajib membayar retribusi pemerintah sebesar 10.000 rupiah. Namun kita meminta diskon karena akses jalan yang rusak membuat teman saya kecelakaan. Setelah merayu-rayu akhirnya kita mendapat diskon berikut dengan jasa pemandu! (Jangan ditiru)

Penuh lumpur dan memar, bukan halangan bagi teman saya untuk tidak melanjutkan perjalanan. Menuju lokasi kita masih harus trekking di hutan selama satu jam perjalanan. Uniknya, untuk mencapai lokasi air terjunnya itu kita harus melewati hujan yang cukup rapat. Pohon yang menjulang di kanan-kiri seolah menjadi payung selama perjalanan dari terik matahari. Menurut Bang Carlos, guide kami, hutan ini dihuni oleh burung Burung Gosong, burung yang setia sehidup semati dengan pasangannya.

 


Perjalanan menuju Cunca Wulang lebih banyak menurun. Setelah melewati hutan, kita akan berjalan di tepian sungai yang airnya jernih dan cukup tenang. Kerling terik matahari memantul di air, membuat semangat semakin bertambah. Batuan-batuan besar juga hadir sebagai penghias sungai ini. Dalam bahasa setempat, Cunca berarti 'air terjun', sedangkan Wulang berarti 'bulan'. Konon bentuk air terjun seperti bulan sabit.

 



 

Suara air yang menggelora menyambut kita di lembah sungai tersebut. Untuk melihat air terjun dari dekat, kita harus melewati batu satu per satu. Setiba di batu tertinggi, saya bertanya, "Bang, saya mau loncat. Bisakah?" "Oh boleh, itu disana! Dari sana sampai ke air ada 8 meter," ucap Bang Carlos dengan logat Manggarainya yang kental.
 Byuuuurr! Tanpa banyak bicara lagi, saya terjun dari ketinggian 8 meter. Adrenalin saya naik, tak ada gentar di jiwa yang haus pengalaman (gayanya selangit, rekk), nyawa serasa tertinggal di udara selama sepersekian detik sebelum tiba di air yang berwarna hijau tosca. Sungguh sebuah pengalaman yang patut untuk dicoba. Kepenatan serasa menghilang sejenak begitu bertemu dengan sejuknya air terjun.


Selain Cunca Wulang, di kawasan ini juga terdapat beberapa objek wisata, antara lain Cunca Rami dan Danau Sano Nggoang di Desa Sano Nggoang yang berjarak sekitar 1,5 jam dari Cunca Wulang, dan Puncak Mbeliling yang berada di Desa Cunca Lolos. Biasanya banyak turis asing yang mendatangi Puncak Mbeliling untuk menikmati sunrise dan birdwatching disana.

Tak salah orang yang menyebut Flores dengan sebutan Nusa Bunga, sebab kecantikannya terpancar dari setiap jengkal langkah, meski harus berjibaku dahulu sebelum melihatnya. :p Saya merasa sangat beruntung tinggal di negeri yang kaya dan merupakan kewajiban kita untuk terus menjaga warisan nenek moyang kita.

No comments:

Post a Comment