Friday, 7 March 2014

Mengintip Nirwana di Kanawa



Kata orang yang sudah keliling Indonesia, pulau yang paling mereka rindukan dan paling ingin mereka datangi lagi adalah Flores. Saya belum genap mengelilingi Flores, (apalagi Indonesia) sudah rindu menyambangi pulau itu.

Pulau Kanawa yang berjarak 15 Km dari Labuan Bajo ini mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Terdengar asing, bukan berarti tidak dikenal, sebab buku Lonely Planet mengatakan tanah ini sangat direkomendasi menjadi destinasi wisata. Coba saja tengok pasir pantainya yang putih lagi halus, bukit menghampar nan hijau di belakang atau lautnya yang biru menggoda. Semua paket ini dapat disaksikan oleh mata kepala sendiri.

Sebelum berangkat, pengunjung diwajibkan untuk registrasi di Kantor Pengelola Kanawa yang terletak tidak jauh dari pelabuhan. Kapal lepas sauh dari Labuan Bajo sekitar pukul 12.00 WITA, perjalanan yang ditempuh selama 45 menit ini dibebaskan dari biaya bagi para pengunjung Kanawa. Sepanjang perjalanan, beberapa pulau berbukit muncul seolah mengucapkan selamat datang.

Kanawa sudah di depan mata, air lautnya yang sebening Kristal dengan ikan-ikan karang yang hilir mudik datang menyambut kapal penumpang. Saat berjingkat di atas dermaga kayu, Om Dus, salah satu staff di Kanawa yang ikut dalam kapal berkata, “Dulu di dermaga ini ada rumahnya, tapi tersapu badai setahun lalu.” 

Setelah registrasi penginapan, saya diberitahu bahwa saya dan teman saya adalah satu-satunya pungunjung dari Indonesia. Wow! Tanpa banyak basi-basi, setelah mendirikan tenda dan mengisi amunisi perut, kami langsung mengambil peralatan snorkeling dan menuju selatan pulau. Menurut manager Pulau Kanawa, lokasi snorkeling terbaik dimulai dari depan bungalow nomer satu sampai ke dermaga.


Di bibir pantai kami bertemu dengan padang lamun, lalu sampah di permukaan air yang sepertinya terbawa dari pulau-pulau besar di sekitar dan akhirnya hamparan koral yang luas. Ternyata koral-koral yang hancur setahun lalu ini, dilindungi oleh peraturan pulau yang melarang kegiatan memancing di  sekeliling pulau. Menurut saya, keadaan terumbu disini meski agak mengecewakan namun banyak ikannya. Saya berjumpa bump head fish yang hampir seukuran  panjang lengan pria dewasa, puffer fish, lion fish atau ikan lepu yang melenggak-lenggok pelan, si ikan badut dan teripang koro yang mempunyai nilai jual yang tinggi.
 

Tak mau ketinggalan pertunjukan langit senja, kami segera mengeringkan diri. Tepat di bibir dermaga, saya menyaksikan permainan langit senja yang begitu syahdu dan damai, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Mega dipenuhi paduan jjngga dan ungu yang mempesona, membuat semua orang menyibukkan dirinya dengan perangkat masing-masing.

Lokasi area tenda tidak terlalu jauh dari toilet umum, sehingga memudahkan kami mengambil air untuk memasak hidangan makan malam mewah ala backpacker. Kanawa yang memiliki luas sekitar 28 hektar ini terdiri dari 3 jenis penginapan, yaitu dengan toilet pribadi dan ayunan tidur (hammock) di teras, bale-bale atau gubuk kecil, dan area perkemahan. Kami memilih tinggal di tenda karena ingin tampil beda (bahasa halus dari ngirit, hehe..) 

Pulau yang terbagi dua oleh bukit ini, hanya diolah pada bagian barat saja, sedangkan bagian timur dibiarkan apa adanya. “Lingkungan dibiarkan alami sebab ada beberapa habitat burung dan kambing yang tidak ingin kami ganggu. Biarlah pengunjung melakukan trekking sendiri mencari hidden paradise masing-masing di antara karang itu,” jelas Anggi, manager pulau itu.

 

Pagi itu kami mengikuti saran Anggi, yaitu melakukan private trekking keliling pulau. Benar saja, banyak keindahan tak terlihat dari pulau ini, seperti baby shark yang sedang berburu di bibir pantai dan hutan mangrove, namun sayang di bagian ini banyak sekali sampah yang berkeliaran di pantai. Padahal setiap hari, petugas kebersihan diwajibkan mengambil sampah-sampah yang berserakan demi menjaga kenyamanan para pengunjung Kanawa.
Benar kata orang, yang namanya surga itu tersembunyi. Sebab jika terpampang, hilang sudah kesan asri dan menawannya, terutama di Indonesia.

No comments:

Post a Comment