People say traveling
is a way of life, for me it’s a form of spiritual. Kenapa? Karena dengan jalan-jalan kamu akan
menjadi sebuah titik yang bergerak dan jejak-jejak yang tertinggal merupakan
sebuah goresan seberapa jauh kamu memaknai hidup.
Semua orang suka yang namanya traveling, begitu juga dengan saya. Beberapa
teman terkadang iri melihat pola hidup saya yang kerjanya traveling melulu. Tak jarang ada juga yang menganggap saya belum
dewasa yang bisanya main dan menghabiskan uang. Saya tersenyum dan terselip
rasa syukur bisa menjejakkan kaki di titik-titik belahan bumi.
Di balik semua perjalanan tersebut, selalu
muncul pertanyaan di kepala, apa yang saya cari dan apa yang hendak saya
lakukan selanjutnya. Benarkah perjalanan ini saya lakukan untuk sebuah
pencarian jati diri? Atau hanya sebuah alasan agar terbebas dari rutinitas?
Bahkan seekor bangau telah memiliki tujuan walau terlihat terbang bebas tanpa
arah.
Saya terlalu takut memikirkan alasan dan
tujuan. Saya takut pada kepastian sebuah alasan, tapi juga terus bergidik pada
ketidakpastian masa mendatang. Ketakutan yang saling tabrak-menabrak itu sering
menghantui selama perjalanan. Menimbulkan rasa gamang dan membuat bertanya, apa
betul jalan yang saya ambil.
Ketika sedang istirahat di dekat Masjid Gede
Jogjakarta, saya mencuri-dengar seorang (mungkin) kiai atau ustadz sedang
menasihati seseorang. “Apa arti hidup bagimu? Sebagian orang mengartikan hidup
adalah lahir, menjadi dewasa, bekerja, berkeluarga lalu mati sebagai sebuah
rutinitas. Menjalani hidup bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, semu dan tak
hidup.”
“Impian kanak-kanak dibuang demi sesuatu yang
semu seperti kekuasaan dan harta. Ingatlah bahwa hidup hanyalah sebuah
pencarian akan kebahagiaan dan impian adalah kuncinya. Namun jangan kau lena pada
kebahagian semata, sebab bahagia itu adalah ketidakpastian, sementara kematian
adalah satu hal yang pasti. Dan seluruh perjanlanan hidup manusia merupakan kunci
untuk mempersiapkan hari kehilangan yang paling besar, yaitu kematian.”
Saya bermimpi selama beberapa tahun terakhir, impian
yang membawa saya beribu kali menyelam dan terbang dalam pencarian. Pada
akhirnya mimpi itu terwujud dan saat saya berada di akhir perjalanan, saya
menyadari sesuatu yang penting. Semakin jauh perjalanan membawa saya, semakin
saya merasa kecil dan tidak tahu apa-apa. Saya kembali menuju sebuah kehampaan,
sebuah titik awal –titik nol.
No comments:
Post a Comment