Sunday, 9 February 2014

Makna Sebuah Perjalanan



People say traveling is a way of life, for me it’s a form of spiritual. Kenapa? Karena dengan jalan-jalan kamu akan menjadi sebuah titik yang bergerak dan jejak-jejak yang tertinggal merupakan sebuah goresan seberapa jauh kamu memaknai hidup.
Semua orang suka yang namanya traveling, begitu juga dengan saya. Beberapa teman terkadang iri melihat pola hidup saya yang kerjanya traveling melulu. Tak jarang ada juga yang menganggap saya belum dewasa yang bisanya main dan menghabiskan uang. Saya tersenyum dan terselip rasa syukur bisa menjejakkan kaki di titik-titik belahan bumi.
Di balik semua perjalanan tersebut, selalu muncul pertanyaan di kepala, apa yang saya cari dan apa yang hendak saya lakukan selanjutnya. Benarkah perjalanan ini saya lakukan untuk sebuah pencarian jati diri? Atau hanya sebuah alasan agar terbebas dari rutinitas? Bahkan seekor bangau telah memiliki tujuan walau terlihat terbang bebas tanpa arah.
Saya terlalu takut memikirkan alasan dan tujuan. Saya takut pada kepastian sebuah alasan, tapi juga terus bergidik pada ketidakpastian masa mendatang. Ketakutan yang saling tabrak-menabrak itu sering menghantui selama perjalanan. Menimbulkan rasa gamang dan membuat bertanya, apa betul jalan yang saya ambil.
Ketika sedang istirahat di dekat Masjid Gede Jogjakarta, saya mencuri-dengar seorang (mungkin) kiai atau ustadz sedang menasihati seseorang. “Apa arti hidup bagimu? Sebagian orang mengartikan hidup adalah lahir, menjadi dewasa, bekerja, berkeluarga lalu mati sebagai sebuah rutinitas. Menjalani hidup bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, semu dan tak hidup.”
“Impian kanak-kanak dibuang demi sesuatu yang semu seperti kekuasaan dan harta. Ingatlah bahwa hidup hanyalah sebuah pencarian akan kebahagiaan dan impian adalah kuncinya. Namun jangan kau lena pada kebahagian semata, sebab bahagia itu adalah ketidakpastian, sementara kematian adalah satu hal yang pasti. Dan seluruh perjanlanan hidup manusia merupakan kunci untuk mempersiapkan hari kehilangan yang paling besar, yaitu kematian.”
Saya bermimpi selama beberapa tahun terakhir, impian yang membawa saya beribu kali menyelam dan terbang dalam pencarian. Pada akhirnya mimpi itu terwujud dan saat saya berada di akhir perjalanan, saya menyadari sesuatu yang penting. Semakin jauh perjalanan membawa saya, semakin saya merasa kecil dan tidak tahu apa-apa. Saya kembali menuju sebuah kehampaan, sebuah titik awal –titik nol.

No comments:

Post a Comment