Thursday, 6 March 2014

Surga Yang Digadaikan




Dewasa ini ramai digadang-gadangkan oleh berbagai media tentang kemolekan Indonesia kepada dunia. Ada begitu banyak tempat yang masih perawan dan jauh dari sentuhan  tangan manusia, apalagi pemerintah. Sangat indah, namun sampai kapan mereka akan bertahan? Akankah bukti nyata kemolekan Indonesia bertahan hingga generasi nanti?


Indonesia adalah surga yang tak terpetakan. Tak perlu kita pergi jauh ke luar negeri untuk berlibur, cukup banyak wisata yang dapat kita temui di Indonesia, dari mulai pantai hingga salju. Namun sayangnya, surga yang kita banggakan sedikit demi sedikit pudar oleh kegagalan Indonesia dalam mengelola pariwisata. Jangankan pariwisata berbasis ekologi yang sedang ramai dibicarakan berbagai negara, prasarana pendukung saja tidak ada!

image


Kadang timbul pertanyaan-pertanyaan kecil di dalam hati, salah siapakah ini? Pemerintah seolah buta akan keindahan negeri ini dan hanya berbicara lantang tentang politik. Sementara dari dahulu, masyarakat tidak mempunyai rasa memiliki; keterikatan rasa dengan tanah ini. Sehingga yang ada selama ini eksploitasi alam yang salah dengan orientasi nilai ekonomi semata.
Kepulauan Seribu sedang naik daun akhir-akhir ini. Kepulauan yang terletak tidak jauh dari ibukota ini menawarkan sensasi pantai yang menawan, tidak lupa ikan-ikan yang sibuk berseliweran di depan mata saat snorkeling maupun diving, menjadi penghibur tersendiri bagi warga Jakarta yang merindukan liburan. Namun lihatlah dampak yang terjadi, perariran menjadi kotor dan terumbu karang banyak yang rusak. Pengunjung banyak yang membuang sampah ke laut dan ternyata mereka tidak memiliki edukasi mendasar tata cara berenang di dekat terumbu karang. Hal tersebut didukung dengan keadaan penyedia jasa yang masih berpikiran sempit mengenai pentingnya pariwisata untuk sekarang dan nanti.
Lagi-lagi pemerintah lupa akan sejarah yang berulang, dahulu Bunaken juga terkenal setelah adanya gembar-gembor Sail Bunaken 2009. Mewahnya pesta yang diramaikan oleh yatch dari beberapa belahan dunia, ikut serta membangkitkan semangat rakyat Indonesia beramai-ramai datang ke Bunaken. Setahun kemudian, terumbu karang yang dijunjung tinggi itu banyak mengalami kerusakan dikarenakan ketidaksiapan masyakarat, baik pengunjung maupun penyedia jasa dalam menangani pariwisata di Bunaken.
Keadaan ini membuat saya berpikir, apakah sudah pantas media mengumbar dan membuka tabir keindahan Indonesia jika pemerintah dan masyarakatnya belum siap menyambut kedatangan pengunjung?


Terkadang mata dan rasa kita terlalu terbuai oleh rayuan para jurnalis tentang keindahan Indonesia yang mengundang decak kagum, namun ternyata setiap hal mempunyai dua sisi mata uang yang berbeda, ada positif dan negatifnya. Positifnya, masyarakat semakin banyak yang sadar tentang keindahan negeri sendiri, namun di sisi lain, rasa memiliki terhadap lingkungan yang kurang di masyarakat menimbulkan kerusakan pada alam.


Bangsa Indonesia wajib bangkit dan menyadari, bahwa negeri yang kaya akan miniatur surga ini tak akan abadi, jika tidak ada kerja sama antar manusia dalam membangun dunia pariwisata. Bukan hanya campur tangan pemerintah yang diperlukan, namun masyarakat perlu menyadari bahwa pariwisata mampu menghidupi kehidupan jika adanya kesadaran untuk terus menjaga dan melindungi alam lingkungannya.
Melalui tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk melarang mencintai dan berhenti mengunjungi surga Indonesia, namun berusahalah untuk menjadi pribadi yang bijaksana ketika jalan-jalan. Sebab keindahan Indonesia adalah warisan bagi generasi anak-cucu, yang harus kita rawat. Ingat selalu pesan yang sering diutarakan oleh penjelajah, take nothing but photo, leave nothing but footprints, and kill nothing but time.

Jangan mengaku cinta Indonesia jika hanya mengenal negeri ini lewat aksara semata. - @aastaridevianaa

No comments:

Post a Comment