Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar,
begitu kata banyak orang. Namun pameo tersebut jika dilihat di teropong era
moderen harus dikaji ulang. Dilihat dari segi geografis memang benar adanya
Indonesia bangsa yang besar dan kaya. Namun dari segi pendidikan, Indonesia
kalah telak dengan negara-negara lain. Terutama dari segi budaya membaca.
Berdasarkan survey yang diadakan oleh badan
pembangunan PBB (UNDP), Indonesia ada di urutan 109 dari 174 negara berdasarkan
kualitas SDM yang dimiliki negara. Sangat tertinggal jauh dari negara tetangga,
yaitu Singapura (24), Malaysia (61), dan Thailand (76). Inilah sebab banyak SDA
Indonesia dikelola oleh pihak asing.
Puluhan tahun silam banyak negara yang berguru
di Indonesia, terutama negara-negara tetangga. Mereka mengirim mahasiswanya dan
dibiayai oleh pemerintah masing-masing. Namun kini keadaan berbanding terbalik,
ribuan mahasiswa Indonesia berbondong-bondong ke negara lain untuk menimba
ilmu. Lalu apa penyebab Indonesia mengalami kemunduran dalam hal pendidikan?
Hilangnya budaya membaca dari bangsalah yang menjadi penyebab utama.
Membaca merupakan kegiatan penting dalam
kehidupan, mengingat semua aspek di dalam kehidupan dewasa ini selalu
melibatkan kegiatan membaca di dalamnya. Untuk menumbuhkan kembali minat
membaca, harus dimulai dari lingkungan seseorang sejak dini. Lalu bagaimana
dengan golongan dewasa? Tidak mudah menumbuhkan bibit pada tanah yang terlanjur
tandus, begitu pula dengan menumbuhkan minat membaca golongan tersebut. Maka dari itu, sebagai generasi muda, kita wajib menanamkan budaya membaca pada anak-anak.
Dewasa ini, kita sadar bahwa tingkat minat
membaca masyarakat yang masih rendah dapat memicu keterpurukan bagi bangsa di
masa mendatang. Saat ini yang bisa dan
harus kita lakukan adalah dengan mendorong anak usia dini untuk mencintai kegiatan
membaca. Untuk menarik minat anak terhadap kegiatan membaca, lingkungan harus
menyediakan fasilitas tersebut. Fasilitas utamanya adalah buku bacaan.
Ada bebagai macam kendala yang harus kita
perangi untuk menciptakan gerakan Indonesia membaca, antara lain:
1.
Kurang
tersedianya bacaan yang menarik hasrat masyarakat
2.
Minimnya
perhatian pemerintah terhadap pendidikan formal maupun non formal
3.
Kebiasaan
malas membaca yang telah mengakar di masyarakat
4. Daya
beli buku masih minim karena tingkat perekonomian yang kurang merata di
kalangan masyarakat Indonesia
5.
Kurang
tersebarnya sarana membaca (perpustakaan dan baca) terutama di pelosok
Indonesia
6.
Sistem
pendidikan yang kurang memberdayakan perpustakaan
Maka dari itu, sudah selayaknya kita memberikan
uluran tangan bagi anak-anak Indonesia, terutama yang berada di pelosok negeri.
Indonesia harus bangkit dari keterpurukan dan menyongsong masa depan yang lebih
cerah.
Meski demikian, sudah ada berbagai gerakan dari
pemuda dalam hal meningkatkan pendidikan, terutama minat baca anak-anak di
pelosok negeri. Gerakan yang dilakukan secara gerilya ala pemuda, seperti
@bukuntukpapua, kapal pendidikan WWF Gurano Bintang di Teluk Cendrawasih, Taman
Bacaan Pelangi, dll.
Maka dari itu, saya dan beberapa orang teman tergerak
untuk ikut serta dalam membantu memeberikan bacaan yang dapat menarik minat
anak-anak terutama di beberapa desa terpencil di Flores, seperti Waerebo, Denge
dan Kombo. Desa yang cukup terkenal di kalangan asing, namun terasing dari negerinya
sendiri. Bayangkan, untuk bersekolah mereka harus menempuh perjalanan 4 jam
menuruni hutan rimba! Itupun di sekolah mereka, fasilitas membaca belum
mencukupi kebutuhan. Sudah saatnya kita berdiri dan tidak menggantungkan diri
kepada pemerintah. Ayo bantu anak-anak
Waerebo membuka diri pada dunia, dengan cara mendonasikan buku-buku bacaan
untuk usia dini hingga tingkat menengah. Buku yang dibutuhkan adalah
buku-buku yang dapat menggugah minat seorang anak untuk mencintai kegiatan
membaca, buku yang informatif, bergambar dengan warna cerah.
Untuk donasi buku, kamu bisa hubungi kami di akun
twitter @nusabaca2014 atau hubungi Asta (081228590655) dan Ledy (08562803028). Kami juga
menyediakan dropbox di @kedai_ilalang dan @earhouse loh :D Berbagi tidak
menjadikan kita jatuh miskin, melainkan kita akan semakin kaya dengan
kebahagiaan. Salam membaca!

Iya tuh di daerah sana minat bacanya masih kurang dan ditambah juga fasilitasnya tidak mendukung.
ReplyDelete