Showing posts with label voluntourism. Show all posts
Showing posts with label voluntourism. Show all posts

Monday, 9 February 2015

Mangrove Penyelamat

7:55 am
Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah terkenal karenan mempunyai daerah rob atau banjir akibat pasang surut air laut yang cukup luas. Banjir rob ini terjadi karena struktur batuan penyusun Semarang relatif muda sehingga mudah mengalami penurunan. Selain rob, hal yang mengganggu lainnya adalah abrasi pantai yang belakangan menjadi semakin kuat.
Dahulu, ada sebuah pulau kecil di pantai utara Semarang bernama Pulau Tirang, namun kini pulau tersebut hanya tinggal gumuk pasir yang muncul ketika air sedang surut. Padahal letak pulau ini tidak jauh dari kawasan wisata Pantai Maron, Semarang. Menghilangnya pulau juga merupakan salah satu akibat yang ditimbulkan dari abrasi karena ulah manusia. Tidak jauh dari pulau tersebut, dibangun pelabuhan kapal dengan cara reklamasi, hal ini membuat arus gelombang menuju Pulau Tirang semakin besar dan akhirnya menghancurkan pulau tersebut.
Setelah Pulau Tirang, masalah yang sama mulai menggerus Desa Tapak, Kecamatan Tugurejo, Semarang. Desa yang terletak di hilir sungai ini selain tergerus abrasi pantai, juga memiliki lingkungan yang jauh dari layak. Airnya hitam, sarat endapan lumpur dan banyak sampah yang bertebaran. Seringkali mesin perahu milik warga macet karena baling-balinya tersangkut sampah. Dahulu di Desa Tapak banyak terdapat pohon mangrove namun warga dihantui mitos mengenai racun di akar mangrove yaitu, apabila tumbang, racun yangterdapat di akarnya pecah dan meracuni lingkungan sekitar. Akhirnya banyak warga yang membasmi mangrove yang ada di desa mereka. 
Pada tahun 2000-2001, terjadi abrasi besar-besaran di sekitar pemukiman mereka. Abrasi tersebut menghilangkan sejumlah tambak ikan bandeng dan tambak udang yang luasnya berhektar-hektar serta menggeser garis pantai hampir sejauh satu kilometer ke arah daratan. Padahal sebelum adanya abrasi pantai, tambak-tambak tersebut dapat menghasilkan bandeng dan udang dalam jumlah hampir mencapai 6 ton sekali panen, dapat dibayangkan betapa besar kerugian yang mereka alami! Namun ternyata hal tersebut belum juga menyadarkan masyarakat arti penting tanaman mangrove bagi kelangsungan hidup tempat tinggal mereka. 
Degradasi mangrove membuat banyak petani tambak dan nelayan menjadi kelompok yang paling renta dan hal yang paling menyedihkan adalah mereka tidak menyadari hal tersebut dikarenakan kurangnya edukasi. Padahal untuk mencegah abrasi pantai yang berlebihan dapat dilakukan dengan penanaman mangrove atau dengan membangun alat pemecah ombak (namun hal ini tidak dapat dijadikan jaminan jangka panjang). 
Akhirnya pada tahun 2008, komunitas pecinta mangrove asal Undip (KeSEMaT) dan LSM BINTARI mengadakan kerjasama dengan pihak asing untuk merehabilitasi Kawasan Tugurejo, terutama Desa Tapak yang berada di tingkat abrasi tertinggi wilayah Kota Semarang. Identifikasi masalah dilakukan dengan menggandeng praktisi keilmuan dari perguruan lokal dan berusaha memberikan gagasan atas nasib petani tambak dan nelayan Desa Tapak kedepannya. 
Kreasi anak bangsa :)

Mereka juga membangun komunitas-komunitas lokal di dalam masyarakat yang tugasnya melindungi daerah pantai dari serangan abrasi. Di dalam komunitas tersebut, masyarakat diajak bertukar pikiran tentang apa yang harus ditempuh untuk melindungi lingkungan, mereka diajak menjadi pelaku untuk menimbulkan kepedulian terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.
Masyarakat Desa Tapak akhirnya memilih untuk menanam mangrove kembali dan memulai target penanaman di sekitar tambak yang masih tersisa, selain itu juga mereka membangun Alat Pemecah Ombak dengan bahan-bahan bekas serta bambu sebagai usaha tambahan untuk mengurangi abrasi di sekitar pantai. 
Semarang juga punya penghijauan kok :D

Ekosistem mangrove memberikan banyak manfaat, baik secara langsung kepada manusia (economic values) maupun yang tidak langsung (non economic values). Manfaat untuk manusia antara lain, dapat dijadikan bahan makanan dan obat-obatan, dijadikan bahan pengawet, serta bahan bangunan. Sementara bagi lingkungan, menumbuhkan pulau baru, mengawali rantai makanan (menjadi rumah bagi banyak hewan), dan menjernihkan air. 
Berwisata di antara mangrove

Selanjutnya komunitas kecil tersebut berhasil mendirikan sentra pembelajaran mangrove dan membuat paket ecotourism yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat Desa Tapak Tugurejo. Paket yang dihargai sekitar 50.000 rupiah ini mengundang wisatawan untuk menanam mangrove, selain itu mereka juga diajak menyusuri kawasan hutan mangrove dan membeli udang maupun rajungan di tambak yang dikelola masyarakat serta paket makan siang. Aksi ini membuat wisatawan secara tidak langsung ikut serta dalam program pelestarian alam. Bersenang-senang menikmati alam tetap jalan, sementra kelestarian alam juga tetap terjaga.
Kegiatan berjalan-jalan sambil melestarikan lingkungan merupakan salah satu wujud untuk mencapai tujuan wisata berkelanjutan. Dewasa ini masyarakat menamakan program ini sebagai voluntourism, dimana ada unsur menjaga dan memberi nilai tambah kepada daerah wisata kunjungan. Tentunya program ini harus dibuat secara menarik, dengan begitu, wisatawan melakukan kegiatan penanaman dengan sukarela. Masalah tidak berhenti sampai disitu, akibat dibukanya kawasan wisata hutan mangrove tersebut, sampah yang dihasilkan oleh wisatawan membuat kawasan pantai Desa Tapak kembali kotor.
Penanaman tepi pantai
Anak SD aja bisa bersih-bersih pantai :p

Sampah yang berserakan tersebut sangat mengganggu pemandangan, pada akhirnya, komunitas masyarakat kembali bersatu padu mengedukasi masyakarat dan membuat peraturan yang lebih ketat bagi wisatawan. Mereka juga membuat kreasi wisata sampah, dimana wisatawan diajak untuk memungut sampah, kemudian hasilnya dapat ditukar dengan souvenir berupa bibit mangrove :)

Monday, 2 February 2015

Denyut Asa Untuk Indonesia

5:44 pm
Indonesia kaya rasa, itulah Indonesia di mata saya. Sebuah negeri yang tiada henti mencipta decak kagum. Pesonanya tersebar dan memiliki ciri khas tersendiri. Bali dan Raja Ampat yang mendunia, Danau Toba yang luar biasa, hingga Gunung Rinjani yang teramat cantik, menghiasi Sabang hingga Merauke. Jika harus menikmati rasa di tiap daerah, tentu tidak pernah habis seumur hidup kita. Tapi, kenapa wisatawan asing 'malas' datang ke Indonesia dan berkunjung ke negara tetangga?
Menurut Tempo.co mengenai nilai pariwisata negara Asia Tenggara, ternyata Indonesia jauh tertinggal bila dibandingkan dengan negara lain seperti, Singapua, Malaysia, bahkan Brunei yang memiliki luas negara tidak seberapa. Menyedihkan, padahal negara ini jauh lebih kaya dibanding negara lain :( 
Pernak Pernik Kehidupan
Ada beberapa permasalahan yang merajai dunia Pariwisata Indonesia, yang entah kenapa selalu sama sejak belasan tahun lalu dan tidak ada perubahan yang signifikan, antara lain :
     1. Pemerintah tidak serius menggarap kepariwisataan
     2. Branding Indonesia tidak konsisten dan kurang gencar
     3. Infrastruktur dan Akomodasi tidak layak
     4. Masyarakat kurang memiliki kesadaran lingkungan
     5. Ego sektoral yang terlalu tinggi
Dari kelima permasalahan yang saya rangkum, hal yang paling krusial adalah dari segi pemerintah, sebab pemerintah adalah titik puncak sebuah negara. Saya akan memberikan contoh dari segi travel blogger. Saat Malaysia mengadakan acara Malaysia Tourism Hunt 2013, mereka mengundang 25 blogger dari seluruh dunia, lalu darimana mereka tahu identitas blogger dari negara tertentu? Ternyata mereka mempunyai database blogger seluruh dunia, mencengangkan! Untuk apa mempunyai database blogger? Hal remeh-temeh tersebut ternyata memiliki manfaat, yaitu untuk mempromosikan wisata, salah satunya dengan adanya acara Malaysia Tourism Hunt itu. Bagaimana Indonesia?
Contoh selanjutnya mengenai peran penting pemerintah dari segi branding. Jika saja pemerintah berniat untuk menggenjot pariwisata Indonesia, tentu ia akan menyuruh Kementerian Pariwisata untuk bertindak 'gila', kenapa? Indonesia butuh lebih dari sekedar 'Wonderful Indonesia' yang digelar secara bergilir namun setelah acara selesai, selesai pula branding itu berkibar di langit. Indonesia butuh gebrakan yang konsisten di dunia pariwisata. Semangat 'Wonderful Indonesia' harus disematkan oleh pemerintah ke tiap-tiap jiwa masyarakatnya, sebab hanya dengan bersatu padu mencintai negeri inilah kita akan mampu mengangkat nama Pariwisata Indonesia ke ranah internasional.
Jika pemerintah adalah titik puncak sebuah negara, maka rakyat adalah jiwa dari negara tersebut. Lalu apa yang harus dilakukan oleh rakyat untuk meningkatkan potensi pariwisata? Membujuk pemerintah untuk aktif mendukung pion-pionnya dalam memajukan pariwisata. Pion yang dimaksud disini ialah, komunitas pengusung konservasi alam, penggiat cagar budaya hingga travel blogger. Mereka, kami dan kita adalah pion negara yang akan selalu bergerak mempromosi sekaligus menjaga destinasi pariwisata indonesia.
Beberapa komunitas penggiat pariwisata belakangan ini sibuk mempromosikan gaya baru dalam traveling, mereka menyebut gaya itu dengan 'Voluntourism'. Voluntourism merupakan penggabungan dari dua kata, Volunteer dan Tourism. Maksud voluntoureer adalah seseorang yang mengadakan kegiatan volunteer dalam lingkup pariwisata. Mereka diharapkan dapat memberi kontribusi sekecil apapun terhadap destinasi wisata yang dituju. Sehingga nantinya akan terbentuk ikatan saling memberi antar pelaku. Gaya ini mucul sebagai salah satu solusi dalam menghadapi permasalahan wisata yang ada di negeri ini dan juga sebagai bentuk upaya mencapai tujuan "Pariwisata Berkelanjutan".
Seperti Apa Bentuk Voluntourism?
Ada banyak contoh voluntourism yang ada di sekitar kita tanpa disadari, berikut beberapa pengamatan saya mengenai voluntourism di Indonesia :
Inspirasi dari Milk Academy Bersama Peternak Sapi Argosari

   1. Beberapa Universitas di Indonesia memiliki program KKN (Kuliah Kerja Nyata) dimana para            pelajar diharuskan untuk mengabdi kepada masyarakat selama kurun waktu tertentu. Meraka              diminta untuk mencari permasalahan yang dihadapi sebuah desa untuk kemudian menghasilkan          sebuah solusi nyata. Misalnya, di desa X sebagai penghasil susu sapi seharusnya mampu                      meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, namun kenyataannya adalah sebaliknya, maka para              pelajar diminta untuk memberikan solusi seperti, memberi ide alternatif pengolahan susu sapi              agar dapat  meningkatkan nilai jual susu sapi di daerah X. 


   2. Gerakan Book For Mountain, mereka menyatakan diri sebagai kurir buku untuk seluruh anak di          nusantara, sekalipun di tempat-tempat terpencil. Mereka yang sebagian besar terdiri dari muda-          mudi ini berkelana ke pelosok negeri untuk menikmati alam Indonesia sambil menyerahkan buku        untuk adik-adik tercinta. Sebuah gerakan traveling sambil membantu sesama yang cukup unik.

Salah satu desa tempat #RelawanMengajar bertemu adik-adik
Penggalangan dana SAAN

   3. #RelawanMengajar oleh SAAN, mereka rata-rata berawal dari traveling lalu menyadari betapa             pendidikan masih merupakan barang mahal yang sulit teraih di beberapa penjuru negeri ini.                Beberapa dari mereka membangun warung baca di Terminal Garut yang pada akhirnya                        dirobohkan karena dianggap sebagai bagian dari bangunan kumuh, ada juga yang mengumpulkan        anak-anak desa agar dapat mengenyam pendidikan dasar. Semua mereka lakukan sambil                      menyelam minum air alias sambil jalan-jalan melihat Indonesia lebih dekat. 
Sebenarnya banyak gerakan yang telah ada dan berkembang di negeri tercinta ini yang berbasis voluntourism, namun tidak banyak. Maka dengan itu, beberapa instansi berkolaborasi dengan komunitas untuk memperkenalkan gerakan voluntourism untuk memperbaiki pariwisata dari segi rakyat Indonesia. Kita bisa asal bersatu.
Voluntourism = Traveling Plus-Plus
Voluntourism digadang merupakan salah satu jalan untuk mencapai sistem Pariwisata Berkelanjutan, maka untuk menciptakan hal tersebut, bukan hanya segelintir orang yang bergerak, tapi seluruh masyarakat Indonesia harus bersatu menuju harapan tersebut. Pemerintah harus membuat voluntourism sebagai jalan untuk menarik para backpacker asing mendatangi Indonesia. Pertama pemerintah harus menghilangkan 'adat' mengeruk dollar dari kantong wisman, kedua membuat program agar para wisman dapat diberdayakan di daerah wisata untuk meningkatkan taraf hidup serta perekonomian daerah. Sementara itu, nilai yang ditawarkan wisman atau para pelancong adalah mendapatkan nilai kehidupan yang lebih dibanding jika mereka hanya jalan-jalan tanpa interaksi intim dengan penduduk.
Voluntourism = Deritamu, Kisahku Juga
Visi misi yang dilahirkan dari voluntourism adalah mengajak kita untuk melihat Indonesia dari sudut pandang pelaku, maka sudah pasti akan membuat kita lebih dekat dengan saudara yang tidak kita kenal, menambah tingkat Ke-Indonesia-an yang ada di dalam diri kita dan juga mungkin akan membantu mengurangi derita yang terdapat di suatu daerah.
Maka selanjutnya, apa yang harus kita lakukan untuk pariwisata? Mari bergerak! Kita tunjukkan kepada dunia, bahwa kita mampu membawa pariwisata negeri ini ke arah yang lebih baik. :)

Referensi :


Sunday, 1 February 2015

Tangkahan, From Zero To Hero

6:51 pm
Pernahkah kalian menyadari bahwa jalan-jalan bukan sekedar hura-hura dan sebuah kegiatan me-refresh-kan otak saja? Kalau belum sadar, mungkin perlu dibuat nafas buatan dulu *eits.. kesenangan *eits.. Dikiranya ada yang pingsan, apa??
Sebenarnya esensi jalan-jalan lebih dari sekedar pelepas penat belaka loh! Kalau saja kita mau membuka mata lebih lebar, menajamkan telinga lebih jauh dan merasa lebih peka terhadap sekitar, pasti banyak manfaat traveling yang bisa diserap.
Saya pernah mengalami hal itu, di beberapa perjalanan terakhir saya. (Duh maapkeun yak, neng akhir-akhir ini serius mulu omongannya, heuheu.. Tapi bukan bawaan umur loh, neng masih belia!) Tapi sekarang saya tidak akan berbagi kisah tentang saya, tapi tentang seorang kawan, sahabat tepatnya, hehe.
Sebut saja ketika dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Semarang, saya mendapat kesempatan berbincang dengan seorang kenalan. Pembicaraan berawal dari rasa penasaran saya pada foto dibukunya. Foto orang duduk di atas gajah yang sedang melintasi sungai. Pembicaraan bergulir pada kisahnya saat sedang liburan singkat di daerah Tangkahan, Sumatera Utara.

Tangkahan merupakan salah satu kecamatan kecil di daerah Langkat, Sumatera Utara (Sumut), dimana letaknya berada di antara perkebunan sawit dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Kawasan ini memang tidak memiliki pamor yang signifikan di kalangan masyarakat Indonesia, namun kawasan ini cukup terkenal dengan surga pembalakan kayu. Ratusan ton batang kayu dapat rebah dari tangan-tangan penebang kayu ilegal ini. 
Mengapa ia tertarik datang kesana? Soalnya dia ingin mengunjungi kawannya, seorang jagawana Tangkahan. Kawannya ini adalah salah satu pemuda penggagas transformasi Hutan Tangkahan, dari surga pembalakan liar menjadi surga wisata hutan berkelanjutan.
Darinya, bergulir cerita awal hutan Tangkahan yang merupakan hutan hujan terbesar di Sumatera Utara beserta suku yang mendiami dengan perekonomian yang jauh dari layak.
Sejak tahun 1980-an, para illegal logger menebang kayu-kayu jenis meranti untuk dikirim kepada cukong kayu di Tanjung Pura, hingga hutan hampir habis dibabat hingga akhirnya terjadi beberapa kasus pembalakan yang terkena jerat hukum, hal tersebut ditandai dengan berkurangnya aktivitas pembalakan.
illegal logging :(
kayu berumur puluhan bahkan mungkin ratusan tahun :(

Muncul inisiatif dibukanya objek wisata yang mengikut sertakan beberapa tokoh setempat. Namun ternyata objek wisata belum dapat diterima baik oleh masyarakat yang sudah menjalani profesi bertahun-tahun sebagai pembalak liar. Pada tahun 1995 mulai adanya persinggungan aktivitas antara pembalak liar dengan arus wisata, sejak itu berita Tangkahan mulai dikenal oleh dunia internasional. Sekitar tahun 2000-an, akhirnya masyarakat mulai mempertimbangkan keuntungan dan kerugian yang mereka peroleh, antara lain:
      1. Timbulnya aksi protes dari warga desa lain yang tertimpa bencana banjir akibat kegiatan                      pembalakan.
       2. Biaya yang cukup besar untuk menyuap aparat keamanan.
       3. Usaha pembalakan liar hanya memperkaya cukong (aparat keamanan) dan pengusaha kayu.
      4. Pembalakan tidak mengubah garis perekonomian mereka, justru menambah daftar panjang                  kekhawatiran tentang nasib anak-cucu.
Didasari pemikiran tersebut, tokoh masyarakat beserta para penggiat wisata merumuskan agenda pemberantasan illegal logging. Sementara para pemuda mulai bergerak untuk merangkul pembalak untuk menjadi bagian dari kegiatan wisata. 
Mereka membangun peluang hidup baru melalui jalur wisata, dengan itu tidak hanya hutan yang mereka lindungi tapi juga nasib anak dan cucu. Namun kegiatan pariwisata ini juga tidak berjalan dengan mulus, karena masalah-masalah baru bermunculan, dari hadirnya preman dan pungli di kawasan wisata, sampah yang mulai bertebaran, hingga perebutan hak pengelolaan kepariwisataan oleh desa sekitar. Karena permasalahan terus terjadi, akhirnya Kepala Balai TNGL bersama beberapa aktivis memberi strategi baru dalam kepengurusan hutan, yaitu dengan bersama-sama membuka jalur ekowisata di Kawasan Tangkahan.
Andjani lagi sun bathing sekalian mandi di bath tub wahahaha

Kenapa harus dengan embel-embel ekowisata? Kaum muda-mudi Tangkahan mulai mulai memiliki pandangan kritis terhadap keberlangsungan hutan, bukan tidak mungkin dengan membangun pariwisata konvensional, hutan di Kawasan Tangkahan akan mengalami degradasi. Akhirnya golongan pemuda dan beberapa tokoh masyarakat mendidirikan Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) sebagai organisasi pondasi kepariwisataan. 
Tangkahan kembali menjadi hutan yang asri dengan adanya konservasi hutan. Hal ini juga mendongkrak perekonomian masyarakat setempat, karena selain dari menjadi pengolah kebun sawit dan karet, mereka dapat menarik penghasilan dari wisata tempat tinggal mereka. 
Banyak kegiatan yang disiapkan LPT untuk menunjang ekowisata, antara lain adalah fasilitas trekking hutan, pengamatan burung dan orang utan, tubing (menyusuri air deras sungai dengan ban dalam truk), dan kegiatan alam bebas lainnya. LPT juga menghadirkan unit patrol gajah untuk konservasi hutan yang belakangan juga menjadi daya tarik tersendiri.
Inilah muka Tangkahan yang telah didandani kembali

Pembalakan adalah masa lalu bagi masyarakat Tangkahan, setelah timbulnya kerusakan lingkungan dan bencana banjir di hulu sungai. Akhirnya kesadaran masyarakat akan kelangsungan hidup generasi selanjutnyalah yang menjadi tameng dari kehancuran Kawasan tersebut. Tangkahan seolah menjadi benteng terakhir keberlangsungan hidup sebagian kawasan kecil di Taman Nasional Gunung Leuser yang terancam.
Masyarakat diajak untuk aktif menjadi bagian dari perubahan dengan terlebih dahulu membangun sense of belonging yang tinggi. Mereka tidak dihadirkan untuk menjadi penonton tetapi sebagai pemangku tanggung jawab akan kelestarian lingkungan dan kemakmuran anak-cucu mereka. Sehingga timbul sinergi antara alam dan manusia yang saling mengasihi.

Pariwisata Indonesia, Jayalah Negeriku!

3:50 pm
Kali ini mau nulis yang agak serius ah, biar dikata gak slengean bangetlah jadi blogger. Hahaha udah gitu aja pembukanya. Ok, lets give it a try..
Berdasarkan informasi dari internet, ternyata populasi turis mancanegara di Indonesia tahun 2014 hanya sekitar 8,8 juta orang. Dibandingkan dengan negara tetangga, yaitu Malaysia yang 3 kali lipatnya atau sebanyak 25 juta orang, kita sungguh kalah telak. Sedih padahal destinasi wisata di Indonesia sangat luar biasa banyaknya dibanding Malaysia.
Malaysia dengan branding ‘Malaysia, Truly Asia’-nya itu jauh lebih bergema kepopulerannya dibanding ‘Wonderful Indonesia’, tanya kenapa? Jawabannya hanya satu, orang Indonesia kurang ‘care’ terhadap hal remeh-temeh, contohnya branding pariwisata ini.
branding Indonesia tahun 2014
Sumber : Google

Alam yang kaya, Indonesia
Sumber : Google
Coba kamu bayangkan, betapa Indonesia dengan kontur alam yang luar biasa menarik ini akan menjadi negara yang berkembang nan adidaya, jika sektor pariwisata dikelola dengan sebaik-baiknya. Sayangnya, pariwisata hanya dipandang sebelah mata oleh bangsa sebagai penggerak roda perekonomian negeri.
Saya yakin jika Indonesia mau berbenah diri dan menghidupkan branding Indonesia menjadi lebih baik, tentu Malaysia bahkan Singapura akan kalah saing dengan negara ini. Selain masalah branding, banyak hal yang perlu dibenahi dari pariwisata Indonesia.
Logo Sentosa Island

Siloso Beach
Ketika saya ke Singapura, saya baru meyadari bahwa negara ini tidak memiliki pantai untuk berwisata, oleh karena itu mereka membuat pulau dengan menimbun pasir yang diambil dari Bintan. Segala sesuatu yang menyangkut kenyamanan menjadi perhatian mereka, seperti kebersihan, keamanan hingga urusan tiket masuk telah diatur dengan baik. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki seribu pantai dengan sajian seribu pemandangan yang  berbeda, tapi tiket tidak jelas harganya, kebersihan buruk bahkan banyak vandalis yang mencorat-coret nama disana-sini.
Christ Curch Melaka, keindahan kota Semenanjung Malaka
Sumber : Google

Salah satu atraksi kebanggaannya
Sumber : Google
Malaysia mampu mengolah sungai menjadi destinasi wisata yang menarik, tepatnya di sekitar Red Building-Christ Church Melaka. Mereka mendekorasi rumah-rumah di bantaran sungai menjadi apik dan mengelola sungai menjadi asri, bahkan biawak liar masih terlihat berkeliaran. Lalu, viola! Sungai tersebut disulap menjadi Little Venice from Malaysia. Lalu kapan wajah Sungai Ciliwung berubah menjadi seperti itu?
Intinya mereka mampu mengolah sesuatu yang terlihat biasa dan sederhana menjadi atraksi yang mengundang daya tarik wisatawan. Sedangkan di Indonesia, kebanyakan orang sibuk dengan individualitasnya masing-masing tanpa peduli dengan lingkungan.
Selain itu, ketidakmampuan masyarakat Indonesia dalam mengemas pariwisata daerah juga sangat disayangkan. Namun dalam hal ini, masyarakat tidak bisa dijadikan kambing hitam, sebab dibutuhkan peran aktif pemerintah untuk menghidupkan sektor pariwisata daerah.
Bicara soal fasilitas penunjang, Indonesia sangat tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Lihat saja akses jalan menuju lokasi wisata yang terkadang jauh dari kata layak hingga fasilitas MCK yang antara ada dan tiada. Anehnya, sekan pemerintah tetap menutup mata akan hal ini, sementara  branding 'Wonderful Indonesia' terus digaungkan. Ibarat kata, hanya bagus di luar namun bobrok dan rusak di dalam.
Miris kaan

Inikah Wonderful Indonesia?
Seandainya ada kerja sama yang berkesinambungan antara masyarakat dan pemerintah dalam pengelolaan destinasi wisata, maka Indonesia pasti mampu membangkitkan roda perekonomiannya sendiri. Banyak komunitas berusaha mandiri dalam memajukan pariwisata daerahnya tanpa bantuan pemerintah.
Komunitas ini berjuang mengatasnamakan kedaerahannya, ada yang bertema konservatisi alam, wisata berkelanjutan, sosial-budaya, dan berbagai hal lainnya. Setidaknya dengan memberi mereka peluang untuk hidup dan berkembang, pemerintah telah terbantu dalam pengelolaan wisata kedaerahan. Yang pemerintah perlu lakukan adalah mengendalikan dan meminimalisasi tingkat keserakahan masyarakat terhadap pengelolaan tersebut.
Namun yang lebih ironis dari semua itu adalah jika masyarakat sebagai pemilik hak tertinggi dalam hal menikmati hasil daerahnya, hanya sanggup menjadi figuran sementara daerah berkembang dengan menyisakan mereka sebagai kaum tertinggal. Sayangnya, masih banyak daerah yang mengalami hal seperti itu, contohnya di Bali dan Lombok, betapa tenar daerah ini di mata wisatawan asing hingga banyak kaum borjuis menanam modalnua disana-sini, tapi pertanyaannya kemanakan masyarakat asli Bali? Apekah mereka mendapat keuntungan yang setimpal?
Pemerintah perlu mendukung masyarakat dalam mengelola potensi wisata yang ada, terutama dengan sistem sustainable, agar wisata dapat berkembang dengan baik kini dan nanti. Lalu bagaimana caranya? Yaitu dengan memberi pemahaman dan menyadarkan diri tentang arti penting lingkungan terhadap keberlangsungan generasi mendatang. Sudah saatnya, masyarakat dan pemerintah bekerja bahu-membahu untuk membangun kembali imej pariwisata Indonesia. 
Pariwisata berkelanjutan adalah tujuan yang ingin kita capai dan voluntourism sebagai jalan menuju tujuan tersebut. Bagaimana cara menjadikan voluntourism sebagai bagian dari pariwisata Indoesia? Cara pertama adalah dengan membangun jembatan yang baik antar pemerintah dan masyarakat serta memperbaiki infrastruktur dalam negeri. Tahapan kedua adalah membuat branding pariwisata yang menarik dan membuat program volunteer bagi wisatawan di beberapa daerah wisata yang masyarakatnya telah siap menerima kedatangan tamu. Dengan begitu, terjadi hubungan saling menguntungkan antara masyarakat dan wisatawan. Daerah wisata tetap terjaga dan wisatawan mendapatkan ilmu baru tentang Indonesia.
Voluntourism secara tidak langsung menembakkan sasarannya kepada para backpacker atau pelajar asing yang ingin datang berkunjung ke Indonesia namun terhalang dengan masalah finansial. Hal ini sangat baik bagi Indonesia karena para backpacker dan pelajar tersebut memiliki semangat eksplorasi yang tinggi serta kemampuan mengajak wisatawan asing lain untuk ikut serta menjadi voluntouring di negara ini.
Namun yang tidak kalah penting adalah pemerintah bukan hanya harus mendorong bidang kepariwisataan berdiri, namun juga pemerintah harus mengoptimalkan beberapa badan untuk berkoordinasi dengan dinas kepariwisataan itu sendiri, salah satunya adalah Badan Penanaman Modal, kenapa? Di beberapa negara terdapat Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia, nah melalui mereka, kita dapat menyelipkan beberapa 'virus' wisata Indonesia. Maksudnya adalah semua badan kepemerintahan diminta untuk aktif mempromosikan pariwisata Indonesia.
Secara menyeluruh, saya bukan ingin menjatuhkan nama Pariwisata Indonesia dengan kritik-kritik, namun semata karena saya begitu jatuh cinta dan menyayangi Indonesia, baik dari segi alam maupun seni-budayanya. Saya merasa ada keterikatan untuk membenahi pariwisata walau hanya dari balik cuap-cuap blog.
Kita adalah bangsa Indonesia, jika bukan kita, lalu siapa yang akan merawat negeri ini Jika bukan sekarang, lalu kapan kita akan bergerak??

MOHE, INDONESIA!

Tabik,

Astari Deviana

Saturday, 24 January 2015

Voluntourism, Menyebar Cinta Ala Pejalan

4:52 pm
Halo! Saya Astari.. Saya membuat tulisan ini dalam rangka memperkenalkan lebih jauh tentang apa yang orang sebut dengan Voluntourism, ada yang pernah mendengar sebelumnya? 
WHAT
Secara harfiah, voluntourism adalah sebuah penggabungan kata, volunteer dan tourism. Maksudnya adalah suatu kegiatan aktivitas volunteer yang dilakukan dalam lingkup tourism.
WHEN
Kapan aja bisa dilakukan, syaratnya kalian harus dalam posisi jalan-jalan (ahaha ya iyalah!)
WHO
Siapa aja yang mempunyai niat tulus untuk mengenal lebih dekat saudara dan lingkungannya
WHERE
Dimanapun destinasi tujuan wisatanya, dapat dijadikan tempat untuk saling memberi dalam hal kebaikan
WHY
Esensi voluntourism adalah simbiosis mutualisme, pejalan mendapatkan 'nilai' baru di kehidupannya sementara penduduk lokal mendapat solusi dari permasalahan yang ada pada daerahnya
HOW
Berjalanlah dengan hati :)
Kalau menurut saya, istilah voluntourism masih sangat awam di negara ini, namun virusnya saya rasa sudah cukup banyak menyebar di seantero nusantara. Mengapa? Karena saya yakin dengan predikat keramah-tamahan yang dimiliki Indonesia, banyak cinta yang telah ditabur untuk menjunjung rasa persaudaraan di antara anak bangsa.
Lebih tajamnya, voluntourism dapat mengantarkan Indonesia menuju era baru dalam dunia pariwisata, yaitu dunia pariwisata yang sustainable. Kenapa sustainable? Karena dunia tempat kita berpijak ini bukanlah milik kita seorang, dunia ini milik generasi penerus. Sungguh merupakan perbuatan egois apabila kita dengan tamak mengupas semua yang ada di permukaan bumi hanya untuk memuaskan nafsu semata. Sudah saatnya kita berpikir jauh ke depan demi sebuah masa yang lebih baik bagi generasi penerus. Sebab, bukan tidak mungkin dunia yang kita tinggali hari ini akan rusak bila tidak dihargai dengan nilai yang pantas.
Looks good, feels good, does good
www.slideshare.net
Voluntourism lahir dari rasa memiliki terhadap sesama dan lingkungan wisata Indonesia. Jika rasa memiliki telah mengalir di dalam diri seseorang, maka yang dilakukan bukan hanya menjaga tapi juga mengembangkannya menjadi sebuah gerakan untuk memajukan pariwisata Indonesia.
Sadarkah kalian bahwa perkembangan dunia pariwisata di Indonesia dalam keadaan stagnan dari tahun ke tahun? Sadarkah kalian bahwa kita telah kehilangan momen dibanding dengan negara tetangga dalam hal  memajukan pariwisata? Pariwisata di Indonesia dapat dijadikan generator yang cukup menjanjikan dalam roda perekonomian negeri, apabila dikelola dengan pemikiran yang berkelanjutan.
Saya punya kisah menarik tentang mimpi saya. Selain Indonesia, alam penuh mimpi saya berada di negeri nun jauh disana, Nepal. Hal yang membuat saya jatuh cinta dengan negara ini adalah Gunung Amadablam, dan cultural heritage yang dimiliki negara dengan bentuk bendera unik ini. Sama dengan Indonesia, negara ini sangat kaya dengan peninggalan budayanya, ada ribuan kuil menarik di seluruh penjuru negeri dengan penduduk yang taat beribadat. Sebuah harmoni pemandangan yang luar biasa menarik.
Negara kecil yang mengandalkan perekonomiannya dari pariwisata ini, memiliki cara tersendiri untuk menggaet turis. Dengan membuat program volunteer untuk turis dengan budget tak seberapa yang ingin datang berkunjung ke negaranya. Sebuah win-win solution untuk meningkatkan jumlah pendatang, memperkenalkan budaya negeri namun juga mempunyai misi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Mereka mengundang seluruh dunia untuk datang dan menjadi aktor dalam keseharian tumbuh-kembang warga Nepali dalam kurun waktu yang cukup fleksibel antara 1 minggu sampai dengan +/- 1 bulan.
Para pendatang akan ditempatkan disuatu lokasi wisata seperti Kathmandu atau Pokhara untuk menjadi relawan di bidang-bidang yang sudah disediakan seperti mengajar bahasa inggris, membantu memperbaiki rumah, hingga membantu dalam pelestarian lingkungan. Uniknya, dalam mengajar bahasa inggris, bukan hanya diperuntukan bagi pelajar, namun lebih kepada orang-orang bersentuhan langsung pada dunia pariwisata, seperti travel agent, supir taksi, hingga porter. Menurut saya, ide 'voluntourism' ini dilakukan pemerintah agar para Nepali sadar dengan kekayaan yang dimilikinya, mereka tergerak untuk memajukan pariwisata negeri dengan meningkatkan komunikasi terhadap para pendatang.
Menurut saya, hal ini merupakan cara yang cukup jitu untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan juga mempermudah para wisatawan asing untuk mengenal Indonesia secara mendalam. Tentu dengan cara seperti itu, para relawan yang telah kembali ke negerinya akan bercerita dan mengajak teman-temannya untuk datang menjadi relawan.
Indonesia punya banyak wisata yang dapat dikembangkan menjadi destinasi para relawan, Sebab masih banyak tempat di tanah air yang harus bangkit menjadi daerah melek pariwisata. Banyak tempat wisata yang memiliki infrastruktur kurang memadai, akomodasi tidak layak hingga warga yang menarik harga tiket dengan perbedaan ekstrim antara wisman dan lokal. Dalam hal pariwisata, Indonesia masih sama dengan Indonesia berapa belas tahun lalu, bedanya sekarang pemerintah aktif 'pamer' slogan Wonderful Indonesia. Dengan sisi menyedihkan, masyarakat setempat tidak siap dan mengakibatkan eksploitasi alam yang justru merusak.
Indonesia belum serius mengubah wajah pariwisata negeri. Bayangkan, Malaysia dengan bangga mengolah becak menjadi atraksi wisata, becak didesain sedemikian rupa hingga cantik, dipasangi musik, dengan rute tidak seberapa, berhasil membuat taraf hidup tukang becak lebih baik. Lalu bagaimana Indonesia yang punya banyak becak namun pengemudinya hidup di bawah garis kemiskinan? Atau Thailand yang memiliki Phuket, yang keindahannya bahkan masih kalah dibandingkan Raja Ampat, justru mampu menyedot wisman lebih banyak dari negara kita.
Indonesia harus bekerja lebih giat untuk memajukan pariwisata, antara lain mengedukasi masyarakat untuk menggali potensi kedaerahan lebih dalam, meningkatkan kualitas branding pariwisata, dan selalu mengatasnamakan kenyamanan pejalan di area wisata. Untuk dapat mencapai hal-hal tersebut, kita sebagai pejalan harus mampu menjadi ujung tombak masyarakat, salah satunya dengan mengubah perspektif yang ada tentang pejalan. Maksudnya adalah, dengan menjadi pejalan yang tidak hanya menikmati alam, namun juga mampu memberikan kontribusi nyata pada destinasi wisata yang didatangi. Dengan begitu, lambat laun masyarakat akan lebih menghargai pejalan dan mungkin ikut melakukan perubahan nyata pada lingkungan huniannya.
Ada banyak cara untuk menarik wisman datang ke negeri indah ini, salah satunya dengan wisata ala 'voluntourism' itu, namun lebih daripada itu semua ada baiknya kita memperbaiki wajah pariwisata Indonesia terlebih dahulu. Jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin nantinya pariwisata Indonesia mampu mengalahkan jumlah wisman yang datang ke Thailand atau bahkan Perancis :p
Tulisan ini saya sertakan dalam rangka mengikuti writing competition yang diadakan oleh Traveller Kaskus dalam rangka memperkenalkan gaya berjalan yang baru di Indonesia, yaitu, Voluntourism yang merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan awareness pejalan terhadap destinasi wisata yang didatanginya.
http://www.kaskus.co.id/thread/54b0feb3c0cb17ac7f8b456d/official-thread-voluntourism-traveller-kaskus/1 Go check it! And be the part of this competition :)

Tulisan ini bersumber dari : http://go2trek.com/27/Volunteer-Tourism.first-enviromental
                                        chirpstory.com/li/246423